G. SABAR DALAM MENGHADAPI SESUATU

Bookmark and Share

Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.

“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata“galau” tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.



 
 

Al-quran surat Yusuf berisi kisah menarik. Tak hanya sebatas kisah suka-duka kehidupan Nabi Yusuf, tapi juga sekaligus menggambarkan kesabaran ayahandanya, Nabi Ya'qub. Bermula dari hidup damai bersama istri dan 12 anaknya, Ya'qub mendapat informasi melalui ta'wil mimpi Yusuf, bahwa anak bungsunya itu bakal menjadi panutan keluarga. Ya'qub merasa gembira, namun ia berusaha mengendalikan emosinya dengan melarang Yusuf memberi tahu semua saudaranya.

Ya'qub khawatir berita gembira itu bakal membuat iri anak-anaknya yang lain. Itu sebabnya Ya'qub merasa berat hati melepas Yusuf yang diminta saudara-saudaranya untuk ikut bersama mereka jalan-jalan ke luar kota. Ketika 10 orang anaknya memberitakan Yusuf dimakan serigala sambil memperagakan baju Yusuf yang berlumuran darah palsu, Ya'qub amat sedih. Ia sudah mulai tua dan tidak berdaya mengungkap kejadian sebenarnya. Kata Ya'qub kepada anak-anaknya, ''Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'' (Yusuf: 18).

Puluhan tahun Ya'qub berduka cita karena kehilangan Yusuf. Ia terus menangis hingga matanya menjadi buta. Tapi, emosi tetap terkendali. Semua anaknya tidak ada yang dibenci, tidak ada yang disakiti fisik maupun jiwanya, dan tidak ada yang dikucilkan atau disingkirkan. Rasa sedih kehilangan Yusuf belum berakhir. Ya'qub harus melepas Benyamin yang seibu dengan Yusuf bersama saudara-saudaranya untuk mendapatkan bahan makanan di Mesir. Dan, anak-anaknya pun melaporkan bahwa Benyamin ditahan pembesar Mesir karena tuduhan mencuri takaran emas milik kerajaan. Kembali Ya'qub berkata seperti sewaktu kehilangan Yusuf. (Yusuf: 83).

Pernyataan Ya'qub menunjukkan ia tetap sabar dan dapat mengendalikan emosinya serta senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT. Alhasil, ketika 10 orang anaknya ke Mesir lagi untuk ketiga kalinya buat mendapatkan bahan makanan, mereka menemui Yusuf yang ternyata sudah menjadi pembesar Mesir. Yusuf yang melayani mereka dalam mendapatkan bahan makanan di sana, dan Yusuf pula yang melakukan sandiwara dengan menahan Benyamin sebagai langkah awal untuk mereka saling mengenal dan berkumpul kembali.

Itulah sebuah pelajaran kesabaran. Kesabaran kadangkala membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tidak cukup dengan satu kali cobaan, sehingga kesabaran itu semakin terbukti dan teruji. Maka, orang yang sabar tidak mengeluh karena panjangnya waktu yang dilalui. Dia juga tidak muak karena cobaan yang datang tindih-bertindih. Kesabaran seperti itu pula yang harus ada pada setiap mukmin. Sabar dalam pengertian mampu mengendalikan emosi sehingga tidak sampai bertingkah aneh dan melampuai batas. Sabar menghadapi persoalan hidup betapa pun beratnya. Firman Allah SWT: ''Hai orang beriman, minta tolonglah kamu dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.'' (Al Baqarah: 153). (Nasril Zainun)


 


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar